Gratis ongkos kirim minimal belanja 30K*
0 Keranjang
Masuk Keranjang
    Kamu sudah menambahkan produk di keranjang belanja
    Kamu sudah menambahkan 1 produk di keranjang belanja
    Total
    Lanjut Pembayaran Lanjut Belanja

    Gamis Kini

    Fams penyuka gamis pasti sepakat, kalau item dalam fashion hijab ini, sudah menjadi favorit dalam pilihan berbusana. Ya, gamis kini tak lagi terbatas hanya dipakai oleh mereka yang sudah tak lagi muda secara usia, tapi juga dikenakan oleh rentang usia yang semakin muda.

    Semua ini karena model dan style gamis yang kian bervariasi. Salahsatunya yang kekinian adalah gamis dengan detail flare dan layering di bagian dada. Penempatan detailnya dilakukan secara cermat sehingga tetap cantik dalam padanan kerudung panjang.

    Di antara kelebihan gamis adalah kemudahan Fams memakai busana tipe ini. Selain itu rasa nyaman karena longgar, dan jauh dari kesulitan memadu-padan. Meski begitu, banyak Muslimah yang masih menguatirkan penampilannya saat memakai gamis loh Fams. Alasan yang sering diungkap, takut terlihat lebih gemuk. Alhasil, kalaupun bergamis, mereka tetap ingin tampil gaya dan kekinian. Juga merasa nyaman dan tidak mengganggu gerak.

    Nah, berikut ini kiat memilih gamis yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang bisa Fams pertimbangkan.

    • Untuk yang bertubuh tidak tinggi, pilih yang minim detail. Hindari kerut di bagian dada, dan pilih kerudung yang warnanya tidak kontras dengan warna gamis.
    Untuk yang bertubuh gemuk, hindari gamis dengan detail kerut di dada dan pinggul. Pilih posisi detail di area ujung lengan, bawah dan tengah gamis. Akan lebih baik, jika memilih yang berwarna gelap dengan motif yang tidak besar. Jika ingin mengenakan gamis kaus, pastikan siluetnya longgar karena bahan kaus cenderung bersifat "body hugging". Atau lapisi dengan outer, berupa long vest atau long cardigan.

    Melihat Perkembangan Hijab Dunia

    Fashion hijab kini mulai merambah brand-brand fashion internasional. Ya, meski nggak sefenomenal di Indonesia, tapi kondisi ini menandakan adanya potensi pasar yang menjanjikan dan terus tumbuh. Nggak percaya? Simak perkembangannya di berbagai belahan dunia ya Fams!  

    Di Eropa, sebenarnya hijab sudah mulai dikenal sejak tahun 1980an. Waktu itu beberapa toko kelontong konvensional menjual scarf dan kerudung lainnya untuk para imigran yang berasal dari negara-negara Muslim, baik dari Timur Tengah maupun Afrika.

    Perkembangannya cukup signifikan seiring dengan pertumbuhan imigran dari negara-negara mayoritas Muslim yang menetap di negara-negara Eropa dan kunjungan wisatawan Muslim ke berbagai negara di dunia, termasuk Eropa. Situasi ini juga diikuti manakala para atlet kelas dunia mengenakan hijab saat berlatih dan berlaga di berbagai kompetisi olahraga.

    Berikutnya Turki, merupakan negara mayoritas Muslim yang industri fashionnya menjadi salah satu penggerak berkembangnya fashion Muslim dunia. Negara yang sebagian wilayahnya membentang di benua Eropa ini, terkenal dengan produksi scarf-nya.

    Walau banyak penduduknya tidak mengenakan busana Muslim sesuai aturan syariah, scarf Turki yang berdesain indah dan diproduksi dalam skala besar ini, banyak disuka di Asia maupun Eropa.

    Bagaimana dengan negara mayoritas Muslim lainnya seperti Iran?

    Negeri para Mullah ini menerapkan aturan yang cukup ketat pada warganya dalam berpakaian dan bertingkah laku. Meski begitu, tidak menghalangi Muslimah muda Iran untuk mengadopsi gaya busana kontemporer ke dalam pakaian keseharian mereka, yang membuat fashion hijab jadi berkembang.

    Fashion hijab di USA pun semakin marak, merefleksikan warga Muslim di sana yang 50%-nya adalah imigran dari Afrika, sedangkan separuhnya berasal dari berbagai negara lain (kurang lebih 75 negara). Di antara mereka, ada yang kelahiran Amerika, bahkan sudah memiliki 3 generasi.

    Keadaan di Indonesia bahkan jauh lebih menggembirakan, di mana usia wanita yang berhijab, semakin muda. Ini menandakan ekspresi wanita Indonesia untuk menunjukkan kemandirian dalam memutuskan sesuatu semakin berkembang.

    Dari sisi ekonomi, hal menguntungkan dari arus perkembangan fashion hijab ini adalah, Indonesia, bersama Turki dan Cina menjadi penyuplai terbesar produk fashion hijab ke negara-negara kaya di Timur Tengah yang terkenal memiliki buying power kuat.

    Dan tentunya, perkembangan fashion hijab di dunia yang menggembirakan ini menjadi kabar baik bagi upaya menguatkan identitas Muslim di tengah masyarakat yang multikultur, bukan begitu Fams?

    *sumber: www.independent.co.uk dan www.qz.com

    Kaum muda Iran dengan pakaian kontemporer (www.independent.com)

    Kaum muda Iran dengan pakaian kontemporer (www.independent.com)

    Serba-Serbi Bergo

    Kerudung segiempat memang sedang digemari dan trendi, tetapi bukan berarti kerudung instan yang dikenal dengan istilah bergo dilupakan. Bergo tetap punya penggemar sendiri, dan kini makin beragam model dan bahannya.

    Bergo bahan kaus misalnya, memiliki variasi kaus yang kian beragam. Salahsatunya bahan jersey yang dulu sangat populer dipakai. Sekarang ini, jenisnya bertambah banyak, sebut saja di antaranya jersey crepe.

    Di samping variasi bahan, bergo bahan kaus juga mengalami perkembangan dari sisi model. Kalau sebelumnya detail payet dan hiasan border menjadi model andalan, kini desainnya tampil lebih modern.

    Untuk bergo sekolah, bahan cotton combed tetap jadi favorit karena lebih menyerap keringat daripada jersey. Adapun bergo panjang tampil tak kalah trendi. Dengan pilihan detail yang manis, membuatnya jauh dari kesan kuno.

    Dalam perkembangannya, bergo-bergo semi instan justru digemari. Biasanya oleh mereka yang suka kepraktisan tapi ingin terlihat kekinian dan gaya. Kebanyakan bahan bergo semi instan yang dipilih adalah chiffon crepe atau yang sejenis, semata agar tampilan yang dihasilkan terlihat seperti mengenakan pasmina atau kerudung segiempat.

    Apapun pilihan jenis dan model bergonya, yang perlu dicermati adalah perawatannya. Khususnya, pada pencucian bagian pet yang umumnya dilapisi busa tipis di dalamnya. Hindari mengucek bagian ini, dan sebaiknya dicuci dengan tangan. Atau jika dengan mesin, baiknya dipisah dari baju yang berbahan keras atau kasar seperti jeans agar tidak berbulu.

    Lalu jemur dengan cara dibalik, bagian dalam berada di luar. Untuk penyetrikaan, bergantung pada jenis bahan. Bergo cotton combed dapat disetrika dengan temperatur tinggi, sebaliknya bergo chiffon crepe disetrika dengan temperatur rendah.

    Untuk penyimpanan bergo dengan pet, lipat bagian badan bergo. Gulung ke arah dalam bagian pet sehingga hanya pet yang terlihat. Gulungan ini akan mengganjal pet agar bentuknya awet. Akan lebih praktis bila bergo disimpan dengan cara digantung, bila ruangnya memungkinkan. Nah Fams, semoga serba-serbi info seputar bergo ini bisa bermanfaat ya.

    Apa itu print digital?

    Apa itu print digital?

    Maraknya hijab scarf motif dengan teknik printing digital, banyak orang bertanya, seperti apakah printing digital itu? banyak juga yang  kurang paham membedakan printing konvensional dengan printing digital. Inilah beberapa perbedaan dan karakteristik dari kedua teknik printing

    Printing konvensional
    Motif akan terlihat di 2 sisi scarf, walaupun tidak sama jelasnya, di bahan tertentu bahkan tidak terlihat beda (yaitu di bahan polyspun)
    Warna terbatas, paling umum maksimal 8 warna saja
    Warna lebih awet karena masuk meresap hingga serat
    Bisa dicuci mesin dan lebih mudah pemeliharaannya

    Printing digital
    Motif terlihat hanya di 1 sisi, sisi lainnya adalah warna dasar kainnya.
    Warna tidak terbatas
    Warna hanya di permukaan bahan sehingga lebih mudah hilang
    Sebaiknya dicuci dengan tangan
    Jadi, pilih mana?

    Berbagai teknik printing hijab scarf

    Fenomena hijab scarf printing memang menjadikan dunia fashion hijab bergairah, berlomba-lomba produsen fashion hijab membuat hijab scarf printing. Sebetulnya, teknik menciptakan motif di selembar scarf itu ada banyak macamnya.  Yang paling umum adalah printing. Sejak teknik printing digital semakin bisa dilakukan oleh perorangan karena harga peralatan printingnya makin terjangkau dan tidak memerlukan tempat luas, maka hijab scarf dengan teknik print digital menjadi marak. Teknik ini layaknya teknik cetak foto, hanya medianya adalah kain. Jadi warna dan detail tidak terbatas. Berbeda dengan teknik printing konvensional yang memerlukan mesin-mesin raksasa berkapasitas cetak ribuan meter, maka printing konvensional ini prosesnya lebih kompleks karena memerlukan bingkai screen yang jumlahnya mengikuti jumlah warna karena masing-masing warna dicetak oleh masing-masing bingkai screen. Ada juga teknik yang dikenal sejak nenek moyang kita, yaitu teknik batik, membuat motifnya dengan bantuan lilin/ malam panas, agak rumit karena ada proses menutup motif dengan lilin agar saat pencelupan, warna motif yang dimaksud bisa bertahan.  Ada teknik printing  yang lebih canggih dan mahal karena membutuhkan proses tambahan, yaitu discharge print, seperti printing konvensional, hanya ada proses mencabut warna agar warna sesungguhnya muncul.  Sebelum digital print seperti sekarang ini, sebetulnya ada teknik printing semi handmade, yaitu sablon, biasanya sablon dilakukan di T-shirt, untuk di hijab scarf, teknik sablon kurang diminati produsen karena warnanya terbatas dan memerlukan waktu lebih lama. Tapi, apapun tekniknya, konsumen biasanya lebih tertarik pada desain motifnya.

     

    Scarf yang sedang hits

    Scarf yang  sedang hits

    Siapa yang belum punya koleksi hijab scarf bermotif? Semakin beragamnya motif-motif hijab scarf sungguh "menggoda" kita kaum muslimah untuk memilikinya. Mulai dari motif abstrak yang dibuat dalam warna-warna manis, sampai motif scarf yang seakan bercerita tentang suatu tempat atau kota. Benar-benar kita dibuat bingung ya?

    Kenapa fenomena "banjir" hijab scarf motif ini bisa terjadi? semua ini berkat kemajuan teknologi, yaitu digital print. Dengan kemampuannya untuk mencetak cepat dan dalam jumlah minimal, maka teknik digital ini dirasa pas dengan keinginan para desainer dan brand scarf lokal untuk membuat scarf motif berbagai rupa tanpa perlu biaya produksi yang tinggi.

    Hijab scarf juga diminati karena pilihan jenis bahannya yang banyak, bagi muslimah Indonesia, hijab scarf yang bisa tegak berdiri bila dipakai di bagian dahi, itulah yang jadi pertimbangan utama. Sebut saja bahan hijab scarf polyspun yang nyaman & lembut ringan tapi tidak transparan, polywool yang lebih tebal sedikit dari polyspun, dan yang sedang hits saat ini adalah bahan voal, bahan dasar katun yang diperlembut agar terasa lebih nyaman, juga bahan hijab scarf satin yang berkilau atau polysilk pun tetap punya penggemarnya sendiri, terutama untuk acara-acara resmi.

    Jumlah hijab scarf yang diproduksi tidak banyak untuk setiap desain, membuat para produsen hijab scarf berani memasang harga cukup tinggi. Konsumen ingin bergaya lebih eksklusif. Tapi jika jenis motif yang mirip juga dibuat oleh produsen hijab scarf lainnya, apakah sifat eksklusif masih bisa dipertahankan? Disinilah desainer motif atau insan kreatif dituntut untuk selalu mencari kreasi baru.