GRATIS ONGKIR MIN. PEMBELIAN 299.000 | KODE : GRATISONGKIR
0 Keranjang
Masuk Keranjang
    Kamu sudah menambahkan produk di keranjang belanja
    Kamu sudah menambahkan 1 produk di keranjang belanja
    Total
    Lanjut Pembayaran Lanjut Belanja

    Kenal Lebih Jauh dengan Bahan Crepe

    Kenal Lebih Jauh dengan Bahan Crepe

    Fams, sudah pernah dengar bahan crepe kan? Bahan ini belakangan jadi favorit Muslimah berhijab karena cocok untuk hampir semua model busana Muslimah. Mulai dari tunik, gamis, celana panjang sampai rok. Tak terkecuali, kerudung segiempat yang dianggap lebih mudah diatur dan tidak licin jika memakai bahan ini.

    Bahan crepe adalah bahan dengan permukaan yang bertekstur crispy karena jenis benangnya yang high-twist. Berasal dari serat silk, wol maupun sintetis seperti poliester dan nilon, benang yang high-twist ini menyebabkan bahan jadi lebih lembut dan sangat "jatuh" ("slouchy" dalam bahasa Inggris atau "goyor" dalam bahasa pasar).

    Tekstur crepe bila diaplikasikan dalam bahan jadi, bisa ditemukan dalam jenis chiffon dan satin, khusus konstruksi woven maupun scuba. Sementara untuk yang konstruksinya knitted, terdapat dalam bahan jersey.

    Adapun model busana yang cocok dengan karakter bahan ini adalah feminin. Ini membuat detail ruffle dan flare paling pas menggunakan bahan ini. Namun harus sedikit hati-hati ya Fams saat menjahitnya, karena bahan ini mudah sekali berkerut.

    Gaya Kerudung yang Sedang Digemari

    Gaya Kerudung yang Sedang Digemari

    Gaya berkerudung muslimah Indonesia memang dinamis. Silih berganti setiap tahunnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tren pada busana muslim dan gaya hidup kebanyakan komunitas muslimah.

    Di awal tahun 2018 misalnya, gaya berkerudung segiempat atau scarf mulai difavoritkan kembali. Puncaknya di 3 bulan terakhir, seiring dengan membanjirnya scarf motif di pasar hijab.       

    Namun kembalinya gaya berkerudung segiempat tidak serta merta mengulang apa yang pernah digandrungi di tahun-tahun sebelumnya, di mana scarf dipakai dalam berbagai kreasi. Kali ini, scarf tampil dalam gaya simple. Fokus gayanya justru ada pada motif yang teraplikasi di scarf. Inilah yang membuat para wanita berhijab beralih mengenakan scarf motif.

    Kegandrungan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2019. Gaya berkerudung segiempat yang simpel, hanya diikat ke belakang kedua ujungnya atau gaya Turki dengan simpul di depan, akan tetap jadi favorit.

    Demikian juga gaya simple dengan menarik satu sisi segitiga yang menjulur di depan ke salah satu sisi lalu disematkan bros. Gaya ini banyak diikuti Muslimah yang ingin berkerudung panjang dengan menggunakan scarf bermotif.

    Tak pernah tertinggal tren adalah gaya tegak di bagian dahi. Bahan scarf yang bisa mendukung gaya ini, pasti jadi incaran. Bersyukur jenis bahan pembuat scarf semakin bervariasi, memudahkan Muslimah untuk memilih bahan yang sesuai selera.

    Gaya tegak dalam berkerudung segiempat membutuhkan ciput sebagai aksesoris pendukung. Ini membuat ciput tetap diminati untuk menutup dan merapikan anak rambut yang sering jatuh di dahi. Nah Fams, kalau kamu suka gaya simple yang mana ya?

    Pleats dalam Sejarah Fashion

    Pleats dalam Sejarah Fashion

    Sudah tak asing lagi dengan istilah "pleats" kan Fams. Itu loh, detail lipit yang dibuat untuk efek lebih dramatis pada bahan atau busana, dan membuat penampilan jadi berkesan anggun.

    Nah, asal tahu ya Fams, pleats ini punya sejarah yang amat panjang, lebih dari berabad-abad lalu. Tepatnya abad ke-10, saat ditemukan detail pleats paling tua di pakaian bangsa Viking. Di masa itu pleats dibuat dengan cara melipat kain dalam keadaan basah dan diberi tekanan hingga kering. Di era modern, metode ini sering disebut sebagai pleat "plisse".

    Beberapa ratus abad kemudian, tepatnya di abad ke-14, diciptakan lah pleats "organ" yang diaplikasikan pada sebuah gaun di Perancis. Tekstur pleats organ mirip pipa alat musik organ di zaman itu. Namun lipatannya lebih lembut-membulat dan lipitnya berjajar rapi.  

    Di abad ke-17, terjadi perkembangan dari sisi pemakaian detail pleats. Kalau sebelumnya, pleats hanya populer dipakai dalam busana wanita, di abad ini, pleats  mulai diaplikasikan pada busana pria.

    Seabad kemudian, dikenal metode membuat pleats dengan menggunakan salah satu teknik sulam/border. Yaitu kain dilipit-lipit dan dijahit menyatu dengan memakai teknik sulam/bordir di beberapa titik tertentu hingga membentuk lipit-lipit menyerupai sarang lebah. Begitu selesai, jahitannya dibuka. Teknik ini dikenal juga dengan istilah "smocking", biasa dipakai ketika ingin menciptakan busana yang “stretchy” di masa itu.

    Sampai saat ini, kreasi pleats terus berkembang, dengan teknik dasar yang tidak banyak berubah. Hanya saja tekstur yang dihasilkan, lebih variatif, bahkan bisa dibentuk menyerupai motif tertentu, misalkan lekuk-lekuk dedaunan.

    Favorit Baru Brokat Organdi

    Favorit Baru Brokat Organdi

    Berbagai jenis bahan dipakai untuk mewujudkan kreasi fashion hijab. Salah satu yang sedang digemari adalah bahan organdi dengan motif brokat bordir, setelah sebelumnya muncul organdi untuk kerudung segiempat. Bahan organdi menonjol pada sifatnya yang sedikit kaku dan transparan. Walau demikian, cantiknya motif yang dibuat dengan teknik bordir all over, membuat desainer jatuh cinta dan membuat desain busana yang disesuaikan. Karena sangat transparan, maka harus dilapisi dengan bahan lainnya seperti chiffon atau satin. Biasanya bahan organdi brokat ini dijadikan lapisan luar, ada yang bergaya rompi atau vest, banyak juga yang dibuat hanya sebagai detail pada ujung lengan, atau untuk melapisi area tertentu.  Bahan brokat organdi ini banyak dipakai desainer untuk busana-busana pesta atau untuk wedding gown. Desainer internasional seperti Philip Lim atau Valentino menyukai bahan ini untuk rancangannya. Jadi, jika ingin trendy, coba padankan outer brokat organdi dengan dress.

    Akankah Pasmina Kembali Digemari?

    Akankah Pasmina Kembali Digemari?

    Gaya berkerudung dengan memakai pashmina atau selendang, sempat jadi gaya favorit di seantero negeri beberapa tahun ke belakang, namun ditinggalkan di sepanjang tahun 2018. Akankah gaya ini muncul kembali di tahun 2019, sesuai dengan umumnya tren yang selalu berulang?

    Bila mencermati ramainya Instagram yang dipenuhi akun-akun luar negeri yang khusus membahas fashion hijab, hijabers Eropa dan Timur Tengah banyak mengenakan gaya selendang. Bisa jadi hal ini akan membuat selendang kembali digemari di Indonesia. 

    Jika saja ada produsen kerudung atau retailer kerudung yang menyediakan lebih banyak variasi selendang –jenis bahan yang digunakan maupun pilihan motif cantiknya –didukung oleh kehadiran selebgram yang mengenakannya, maka bisa dipastikan selendang akan tren lagi.

    Apalagi kalau konsumen sudah mulai bosan dengan scarf print ataupun scarf motif yang kini sedang membanjiri pasar, bisa jadi tren selendang akan datang lebih cepat.  

    Sesuatu yang baru juga beda, akan lebih mudah dikenali. Bila ini diekspos, tak ayal bisa jadi tren. Begitu juga halnya selendang. Kita tunggu saja ya!