Gratis ongkos kirim minimal belanja 30K*
0 Keranjang
Masuk Keranjang
    Kamu sudah menambahkan produk di keranjang belanja
    Kamu sudah menambahkan 1 produk di keranjang belanja
    Total
    Lanjut Pembayaran Lanjut Belanja

    Supaya Kerudung Awet, Begini Caranya

    Fams, sudah punya berapa koleksi kerudung di rumah? Hem, pasti banyak. Koleksi ini sebaiknya dirawat dengan baik agar lebih awet. Caranya bagaimana? Yuk simak kiat-kiat dari saya!

    1. Pencucian

    Cuci bahan kerudung segiempat dengan tangan dan tidak perlu dikucek terlalu keras karena bahan kerudung umumnya lembut. Cukup direndam selama 15 menit dalam air bersabun lembut (bukan deterjen bubuk karena bahan kimianya keras). Saya sendiri memilih sabun cuci cair yang sudah ada campuran pewangi untuk mencucinya. Khusus kerudung berbahan sutera, saya pakai shampo bayi. Setelah direndam, segera bilas ringan, jangan didiamkan semalaman.

    1. Pengeringan

    Sehabis dicuci segera dijemur. Perhatikan lokasinya ya, jangan di bawah sinar matahari langsung, apalagi untuk kerudung berbahan sutera, bisa menguning bila terkena efek sinar UV.

    1. Penyetrikaan

    Pasang temperatur setrika di titik medium saja. Karena bahan kerudung biasanya tidak mudah kusut. Bahkan ada beberapa bahan kerudung segiempat, misalnya polyspun yang bisa langsung dipakai tanpa harus disetrika terlebih dulu. Untuk menghemat waktu dan terlihat lebih rapi, bagi yang menyimpan kerudung dalam posisi dilipat, sebaiknya tidak menyetrika bagian lipatannya. Karena akan meninggalkan bekas lipatan di bagian tengah yang tegak saat dikenakan dengan model segitiga.

    1. Penyimpanan

    Untuk kerudung yang dibuat dari 100% bahan katun atau wol, pastikan kondisinya betul-betul kering saat disimpan, agar tidak mengundang ngengat (serangga kecil). Kerudung segiempat dan pasmina sebaiknya disimpan dengan cara digantung. Gantungan khusus kerudung banyak ragamnya, ada yang berupa hanger satuan (tapi lebih makan tempat), ada juga yang 1 gantungan terdiri dari beberapa bulatan tempat menggantung kerudung (multi). Saya memilih untuk menggantung kerudung segiempat di gantungan multi dengan menyusunnya sesuai gradasi warna, Hal ini memudahkan saya ketika memilih untuk dipadankan dengan warna busana. Pasmina dan bergo instan dari bahan kaus atau rajut, saya anjurkan untuk disimpan dengan cara dilipat atau digulung agar tidak cepat mulur.

    Ayo, lakukan hal ini mulai dari sekarang. Sayangi koleksi kerudungmu agar bisa sempurnakan penampilanmu.

    Samakah Rajut & Kaus?

    Banyak orang mengira, kalau rajut dan kaus itu berbeda. Padahal jika dilihat dari konstruksi benang, keduanya adalah jenis yang sama. Kok bisa?

    Bahan rajut yang selama ini banyak ditemui pada sweater atau baju hangat, seringkali dianggap berlainan dengan bahan kaus yang dipakai untuk membuat t-shirt. Bila dilihat lebih cermat, keduanya punya konstruksi benang yang sama, yaitu saling mengait. Hal ini berbeda dengan bahan tenun yang konstruksi benangnya saling menganyam. Jadi sebenarnya, rajut dan kaus adalah tipe bahan yang sama. Keduanya dikelompokkan dalam bahan knitted atau rajut dalam Bahasa Indonesia.

    Bahan rajut punya banyak macam. Pernah mendengar bahan jersey atau rib? Nah keduanya termasuk dalam tipe bahan rajut. Dasarnya sama, saling mengait tetapi dengan konstruksi yang sedikit berbeda.

    Lalu spandex, ini juga keliru jika disebut sebagai "bahan". Karena spandex itu hanya seutas benang yang ditambahkan dalam konstruksi rajut agar elastisitasnya lebih lentur. Sebetulnya tanpa spandex, bahan rajut sudah elastis karena konstruksi benangnya saling mengait sehingga bisa mulur ketika ditarik.

    Sifat elastis inilah yang membuat tunik dan gamis elzatta, yang disebut terbuat dari bahan "spandex" atau "jersey", terasa nyaman dan sesuai untuk semua postur tubuh, selain tentunya karena bahannya lembut.

    Nah, tulisan ini sekadar pengetahuan buat Fams, agar saat mendengar “istilah” yang salah, Fams sudah mengetahui yang sebenarnya. Begitulah, kadang "bahasa pasar" berbeda dengan "bahasa ilmu/ teori".

    Begini Membedakan Bahan Tenun dan Kaus

    Menyebut "kain" untuk bahan bukan kaus atau rajut dan tidak stretch, sebenarnya salah kaprah, yang benar adalah "tenun". Ini karena konstruksi bahan yang ditenun atau dianyam mirip sebuah tikar. Benang yang terbentang searah panjang kain, dianyam dengan benang searah lebar kain sehingga bisa ditarik dari semua sisi namun tidak bisa ditarik mulur.

    Sementara bahan kaus, konstruksinya rajut, di mana benang yang membentuknya, saling berkaitan. Bahan ini hanya bisa ditarik dari satu sisi, dan ketika ditarik satu benangnya, maka semua ikatannya akan segera terlepas, persis adegan di film-film kartun.

    Baik kain maupun kaus, keduanya banyak dipakai untuk membuat jilbab, gamis maupun tunik. Untuk perawatannya, menyesuaikan dengan kandungan yang menyertai bahan-bahan ini. Kandungan katun pastinya berbeda treatment-nya dengan kandungan polyester.

    Buat kerudung yang berasal dari tenun maupun kaus, baiknya dicuci manual dengan tangan saja. Dan untuk menjemurnya, khusus kerudung kaus, hindari untuk menggantungnya ataupun menyampirkannya di tali jemuran, tapi letakkan pada bidang mendatar agar tidak mulur memanjang.

    Semoga bermanfaat ya!

    Evolusi Bergo

    Salah satu jilbab yang mengalami perkembangan sangat signifikan di Indonesia adalah bergo, atau jilbab instan. Istilah "bergo" sendiri belum diketahui asal-usulnya. Pengertian yang sudah dipahami khalayak bahwa bergo adalah jilbab instan yang praktis cara memakainya, karena bentuknya yang sudah dijahit sedemikian rupa, sehingga bisa langsung dikenakan di kepala tanpa harus memakai peniti atau jarum pentul.

    Di awal kemunculannya, model bergo sangat khas dengan pet atau bagian dahi yang dilapisi busa tipis, gunanya agar bisa tegak. Banyak pemakai jilbab yang merasa wajahnya bulat sehingga harus diimbangi dengan bentuk jilbab yang bisa memberi ilusi wajah berbentuk oval.

    Pertama diperkenalkan, umumnya bergo tampil polos dengan model simple, dilengkapi detail-detail cantik berupa bordir atau payet di bagian pet. Revolusi dalam dunia jilbab ini didahului dengan dipakainya bahan jersey knitted yang stretch, sehingga tidak perlu lagi peniti atau jarum pentul di bawah dagu karena dengan sendirinya bisa menyesuaikan wajah.  

    Pada perkembangan selanjutnya, bergo mulai muncul dengan berbagai detail jahitan, misalnya lipit di bahu seperti bergo zaria pleat L Alfira atau dengan tali serut agar bergo terlihat selalu rapi seperti bergo zaria sahara yang sudah jadi favorit muslimah di Indonesia.

    Bosan dengan bergo polos, kemudian muncul bergo bermotif, sementara bergo dengan detail payet sudah mulai ditinggalkan. Bergo dengan print seperti bergo zaria ikata, selalu dicari untuk dipadupadankan dengan busana atau gamis polos.

    Perkembangan bergo terkini adalah model yang dikombinasikan dengan selendang (pasmina) atau kerudung segi empat (scarf) tapi dipakai dengan cara instan. Tampilannya seperti memakai pasmina atau scarf, padahal cara pakainya instan layaknya memakai bergo.

    Bahannya pun tak lagi jersey yang stretch, tapi sudah merambah ke chiffon crepe dengan jahitan elastis di bagian bawah dagu. Adapun model yang sedang digandrungi adalah model tumpuk. Sebetulnya ini untuk menyiasati chiffon yang tipis-sedikit menerawang, tetapi dibuat lebih menarik dengan frill atau ruffle di tepinya.

    Buat penggemar jilbab panjang (syar'i), kini makin mudah mendapatkan banyak pilihan sesuai selera, tetap sesuai kaidah islam sambil bisa tampil kekinian. Model-model baru seperti apalagi yang akan muncul untuk bergo? Kita tunggu saja ya!

     

    Awal munculnya bermodel simpel (zaria casual)

    Bergo kini tak hanya polos, tapi juga dengan print (zaria ikata)

    Detail yang makin menarik (zaria pleat L Afira)

    Bergo dengan tali serut agar tetap rapi (zaria sahara)

    Bergo model terkini dengan tampilan akhir seperti memakai scarf (kerudung instan L fenira)

    Mengenal Teknik Motif Tradisional Ikat

    Kain tradisional Nusantara memang begitu kaya, selain batik yang sudah diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia, ada kain lainnya yang juga cantik, menarik dengan proses pembuatan handmade yang luar biasa tidak mudah, yaitu ikat dan songket.

    Baik ikat ataupun songket, sama-sama merupakan kain yang ditenun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Motif yang dihasilkan merupakan kreasi dari mengolah benang-benangnya. Lalu, apa bedanya ikat dan songket? Mau tahu Fams?

    Kain ikat merupakan hasil karya dari daerah Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor dengan kekhasannya masing-masing. Perbedaan yang menonjol dari masing-masing daerah, terlihat pada bentuk motif dan kombinasi warnanya.

    Motif pada kain ikat dibentuk dengan cara mengikat dan menutupi benang lungsi (yang searah panjang kain) dengan tali kedap air. Konsep dasarnya mirip dengan membatik, motif yang tidak diberi warna celupan ditutupi dengan tali atau benang. Setelah proses pembuatan motif dan pewarnaan selesai, kain pun siap ditenun.

    Sedangkan kain songket adalah kain tenun yang ditambahkan motif dari benang emas, perak atau sutera ke bentangan benang (benang lungsi) yang sudah terpasang di mesin tenun. Benang tambahan ini sebagai benang pakan (searah lebar kain) dan disongket atau dicukit satu per satu agar teranyam ke dalam bentangan benang lungsi tadi. Kain songket dihasilkan dari daerah Palembang, Padang, Lampung (Sumatera); Donggala, Bugis (Sulawesi) dan Bali.

    Karena mahal dan terbatas sumber bahannya, maka untuk produksi massal, brand-brand fashion retail banyak yang memakai ikat dan songket sebagai inspirasi untuk bahan printing mereka.

     

    Sumber: www.itjeher.com, www.brainly.co.id

    Mengenal Teknik Motif Tradisional (Batik)

    Buat Fams penggemar batik, pasti sepakat kalau batik merupakan heritage kebanggaan Indonesia. Sebagai heritage yang diakui UNESCO, batik sering dijadikan inspirasi oleh desainer-desainer lokal maupun internasional.

    Dalam perjalanannya di dunia fashion, penyebutan “batik” acap mengalami kekeliruan. Batik yang diungkap, dimaksudkan untuk menamakan jenis motif, bukan untuk menggambarkan proses dalam menerapkan motif tersebut pada selembar kain.   

    Padahal motif batik kini tidak lagi melulu dihasilkan dengan cara manual tapi juga di-print menggunakan mesin. Seperti yang dipakai brand internasional semisal Uniqlo dan Dries Van Noten dari Belgia.  

    Hal ini dikarenakan batik tradisional biasanya hanya dibuat pada kain sutera, katun atau rayon. Nah proses ini kurang sempurna jika menggunakan bahan-bahan sintetis. Sementara bahan sintetis umumnya lebih murah dari bahan alam, maka proses pembuatan motif pun dilakukan dengan teknik printing modern.

    Kembali lagi, istilah “batik” sendiri sebenarnya merujuk pada teknik membuat motif tradisional yang dikerjakan secara handmade. Prosesnya membutuhkan lilin atau malam guna menutupi motif yang sudah dilukis di atas kain.

    Dilanjutkan dengan pewarnaan yang memakai teknik celup atau pembubuhan menggunakan alat mirip spons (istilahnya ditotol). Motif yang tidak ingin terkena warna celupan harus ditutup dengan malam. Begitu seterusnya, proses ini diulang sampai semua motif berwarna sesuai dengan yang diinginkan.

    Prosesnya agak rumit dan butuh pengulangan sesuai dengan jumlah warna. Setelah pewarnaan selesai, kain dijemur agar malam mengering. Tahap berikutnya adalah proses meluruhkan malam, dengan mencelupkan kain di dalam air panas.

    Jadi penyebutan "batik" itu semestinya diartikan sebagai proses pembuatan motif dengan malam dan celupan, bukan untuk menamakan motifnya. Karena motifnya sendiri, sangat variatif tergantung pada falsafah, acara, ataupun kelas masyarakat yang akan memakainya, meski sekarang, kelas ini tidak diikuti lagi.

    Motif batik daerah pesisir misalnya, cenderung berwarna cerah dengan pilihan motif alam sekitar, seperti hewan, bunga dan tumbuhan lainnya. Sementara motif batik daerah tengah biasanya merupakan simbol-simbol seperti parang, kawung, dan lain sebagainya dalam kehangatan warna tanah kecokelatan (sogan).