Gratis ongkos kirim minimal belanja 30K*
0 Keranjang
Masuk Keranjang
    Kamu sudah menambahkan produk di keranjang belanja
    Kamu sudah menambahkan 1 produk di keranjang belanja
    Total
    Lanjut Pembayaran Lanjut Belanja

    5 Cara Pakai Hijab Segi Empat, Cocok untuk ke Kantor

    5 Cara Pakai Hijab Segi Empat, Cocok untuk ke Kantor
    Meskipun sudah banyak model hijab lainnya seperti pashmina dan hijab instan, namun faktanya masih banyak perempuan yang menggunakan hijab segi empat. Hijab segi empat dinilai simple, dan lebih mudah digunakan daripada pashmina. Simak 5 cara pakai hijab segi empat ala influencer berikut yuk!

    Baca lebih lengkap

    CERITA HIJAB INTAN SUGIH

    Berhijab Sepulang Umrah

     

    Beribadah di Tanah Suci memberikan energi positif yang membuat siapapun termotivasi untuk move on ke arah yang lebih baik.

     

    Banyak pengalaman-pengalaman khusus saat berada di sana maupun sepulang darinya, yang menguatkan seseorang dalam beribadah.

     

    Fashion influencer Intan Sugih, salahsatunya. Intan bercerita bagaimana pengalamannya beribadah di Tanah Suci mempengaruhi keputusannya untuk berhijab.

     

    “Aku memutuskan berhijab sepulang umrah di tahun 2016. Selama umrah aku kan nggak pernah lepas hijab ya kecuali mandi. Nah, pas pulang ke Tanah Air, tiba-tiba aku merasa malu sendiri kalau nggak pakai hijab,“ kenang Intan.

     

    Intan mengaku sempat merasa galau dengan keputusannya tersebut, mengingat profesinya sebagai model. “Jujur, waktu itu aku masih mikir, gimana ya nanti kerjaanku kalau aku pakai hijab.”

     

    Namun karena merasa keputusannya adalah kesempatan berharga yang diberikan Allah, Intan berusaha untuk mensyukurinya. “Bismillah, aku teguhi hati. Bagiku, kalau kita ikuti apa yang Allah minta, pasti Allah akan memberi lebih dari yang kita duga.”

     

    Walau begitu, Intan tidak memungkiri banyaknya tantangan untuk melepas hijab di awal-awal, terutama dari lingkungan. “Masih muda ini, kalau kerja dibuka saja hijabnya, nggak apa-apa kok,” ujar Intan menirukan.

     

    Alhamdulillah, alumnus D3 komunikasi Fikom UNPAD 2012 ini berhasil melalui masa-masa tersebut, dan justru merasakan berkahnya berhijab yang membuatnya semakin bersyukur.

     

    Satu hal yang paling ia syukuri dari keputusannya ini adalah, ia bisa membuat mamanya bahagia melihatnya berhijab. “Alhamdulillah mama bisa melihatku berhijab sebelum beliau meninggal, nggak lama dari aku mulai pakai hijab, dan beliau senang sekali.”{}

    6 ALASAN KAMU PERLU IKUT AJANG WAJAH ELZATTA

    Ajang Mengembangkan Diri

    Ini dirasakan betul oleh Alintiya Zhafara, Juara I Wajah Elzatta 2018. Menurutnya setelah bergabung dalam keluarga besar Elzatta, ia semakin semangat mengembangkan diri. “Bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi, membuatku bertambah semangat menjadi pribadi yang lebih baik.” 

     

    Brand Favorit

    Yup, Elzatta adalah salahsatu brand favorit di Indonesia. Karena itu, kata Nabilla Khaira Azhar, Runner Up I Wajah Elzatta 2018, sangat sayang kalau tidak ikut andil dalam brand ini. “Pengalaman saya, setelah mengenal lebih jauh Elzatta, saya semakin memfavoritkan brand ini. Timnya itu, luar biasa kekeluargaannya. Kemudian suasana kerja yang dibangun juga Islami banget, membuat saya merasa diarahkan untuk selalu menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.”

     

    Wadah Menebar Kebaikan

    Brand Elzatta memiliki kepedulian tinggi dalam menebar kebaikan. Bahwa sebagai seorang Muslimah kita harus mengarahkan kehidupan kita untuk selalu berbagi kebaikan kepada banyak orang. “Sebagai penulis buku-buku motivasi, saya memiliki kesamaan visi untuk senantiasa menebar kebaikan dalam kehidupan,” tutur Raden Anggi Rospidia, Runner Up II Wajah Elzatta 2018.

     

    Mengasah Passion

    Melalui ajang Wajah Elzatta, brand Elzatta mendukung para Muslimah untuk mengasah passion dalam berbagai bidang. Hal ini sangat dirasakan oleh Wulan Dasnira, Runner Up III Wajah Elzatta 2018. “Setelah dinobatkan sebagai pemenang Wajah Elzatta, saya dipertemukan dengan orang-orang hebat yang menginspirasi dengan aneka passion-nya. Ini adalah suatu kebanggaan yang membuat saya semakin percaya diri untuk terus mengasah dan mengembangkan passion saya.

     

    Menginspirasi Muslimah

    Ajang Wajah Elzatta di mata Laila H. Assegaf, Runner Up IV Wajah Elzatta 2018, menjadi ajang untuk menginspirasi Muslimah Tanah Air untuk berhijab. “Hal inilah yang memotivasi saya untuk ikut Wajah Elzatta. Bahwa dengan berhijab kita tetap bisa tampil stylish. Dan karena Elzatta brand besar, maka akan semakin mudah menyebarkan syiar hijab ini kepada semua Muslimah.”

     

    Menemukan Keluarga Baru

    Sangat jarang menemukan brand hijab di Indonesia yang berupaya mengumpulkan Muslimah-Muslimah aktif berprestasi. “Bersyukur Elzatta menjadi wadah bagi hal ini melalui ajang Wajah Elzatta 2018. Dari ajang ini, saya menemukan sahabat dan keluarga baru, yang memperluas silaturahim saya,” ujar Laila Wirna La Siwe, Juara Favorit Wajah Elzatta 2018.{}

    ALINTIYA ZHAFARA Wajah Elzatta 2018

    Keluar dari Zona Nyaman

     

    Banyak orang memilih untuk tetap berada di zona nyaman, namun tidak untuk Alin. Juara I Wajah Elzatta 2018 ini, justru memilih untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil beberapa pilihan yang membuat hidupnya jadi lebih bermakna.

     

    Salahsatunya adalah pilihan untuk keluar dari rutinitas sebagai aktivis dalam berbagai organisasi kampus. “Karena mulai sedikit mata kuliah yang diikuti, saya mulai mencari kesibukan lain di luar kampus dengan aktif memenuhi permintaan untuk catwalk, make up, hijab stylish, MC sampai mengikuti kompetisi kecantikan,” kata Alin yang lahir di Bukittinggi, 17 April 1997.

     

    Pilihan untuk keluar dari zona nyaman sebagai mahasiswa disebabkan keinginan Alin untuk mengatasi rasa jenuh sekaligus memperkaya pengalamannya dalam berbagai bidang kehidupan. “Alhamdulillah, dengan melakukan kegiatan-kegiatan ini, Allah memberi kesempatan lebih banyak lagi, untuk bertemu banyak orang hebat yang menginspirasi saya menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar alumnus S1 Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia.

     

    Bersyukur keluarga mendukung pilihan Alin untuk berkegiatan di luar rutinitasnya sebagai mahasiswa. “Mama mendukung saya selama mampu menyeimbangkan diri dalam memenuhi tanggung jawab sebagai mahasiswa tingkat akhir yang dibebani tugas kelulusan. Alhamdulillah, saya bisa merampungkan kuliah di tengah kesibukan yang ada, dan penghujung Agustus kemarin, saya sudah diwisuda,” tutur putri pasangan (alm) Febrianto dan Rachmawati.

     

    Lulus kuliah, Alin tetap menjaga semangat untuk mewujudkan deretan mimpinya. Mulai dari cita-cita untuk bekerja pada bidang studi yang ditekuninya semasa S1, membuka bisnis make up dan kuliner hingga keinginan untuk terjun ke dunia entertainment baik di bidang modelling, public speaking (MC dan host) maupun acting.

     

    Alin mensyukuri keputusannya untuk keluar dari zona nyaman. Hidupnya jadi lebih berwarna, persis dengan kehidupan di masa kecilnya yang penuh cerita. “Mulai dari serunya manjat pohon jambu lalu ngambili jambu untuk teman-teman yang menunggu di bawah pohon, bermain petak umpat, menerbangkan layang-layang sampai melakukan aksi panggung ala kontestan Indonesian Idol,” kenang Alin sambil tertawa.

     

    Ditambah lagi keseruan menari dan bergaya ala tokoh Maria Belen. “Mama senang mendandani Alin. Kadang dengan kepang satu kayak pohon kelapa atau dengan jilbab yang digayakan. Nggak ketinggalan papa yang ikutan membelikan rambut palsu kriwil-kriwil agar mirip tokoh Maria Belen,” imbuh lulusan SMA 1 Bukittinggi.

     

    Kehidupan ini terlalu sayang untuk dilalui dengan pola yang stagnan. Melenturkan diri untuk menyentuh hal positif lainnya, Insya Allah akan membawa pada banyak kebaikan. “Mumpung masih muda, amunisi keberanian dan kreativitas masih tinggi, saya mengajak teman-teman untuk keluar dari zona nyaman,” pungkas Alin.{}

    RADEN ANGGI ROSPIDIA Wajah Elzatta 2018

    Menulis Buku Motivasi

    Runner Up II Wajah Elzatta yang memiliki segudang aktivitas ini, ternyata pernah mengalami masa kecil penuh bullying. “Saya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan lebih besar dari ukuran anak-anak sebaya saya, dengan warna kulit gelap. Ini menjadi bahan olokan teman-teman sewaktu mereka “terganggu” dengan keaktifan saya bertanya dan menjawab pertanyaan guru di kelas,” ujar perempuan kelahiran, Serang 17 Juni 1992.

     

    Sebutan gajah bengkak, kebo ireng, menjadi olokan yang sering diterima. Namun Anggi tidak ingin larut dengan bullying yang dilontarkan. Ia justru bekerja keras menjadi pribadi positif dengan sederet prestasi. Kini Anggi bermetamorfosa menjadi sosok cantik dengan torehan karya di banyak bidang.

     

    Lulusan S1 Fakultas Ekonomi Manajemen ini merupakan seorang pramugari di sebuah maskapai penerbangan. “Sewaktu kecil saya paling suka melihat langit dengan gemerlap bintangnya. Alhamdulillah, Allah berikan saya kesempatan untuk selalu dekat dengan langit lewat profesi saya sebagai seorang pramugari,” tutur putri pasangan Raden M. Rosumali W,SE dan Hj. Supiah.

     

    Bersama perannya sebagai awak kabin, Anggi juga seorang cabin safety instructor. “Setiap  awak kabin yang akan terbang harus melalui tahap pendidikan safety. Di pendidikan ini, saya mengajarkan aspek safety kepada seluruh awak kabin di perusahaan tempat saya bekerja.”

     

    Di sela-sela jadwal terbangnya, Anggi masih menyempatkan diri untuk menjadi Relawan Indonesia Mengajar di GA Circle, trainer dan public influencer. Anggi juga seorang penulis. Beberapa tulisannya sudah dipublikasikan oleh penerbit Major Indonesia.

     

    “Melalui tulisan, saya ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk berpikir positif dan bersyukur dalam kondisi apapun. Bahwa setiap hal yang terjadi pada diri kita adalah kebaikan termasuk saat mendapatkan perlakuan buruk dari lingkungan. Ketika hal ini sudah tertanam dalam diri, Insya Allah kita akan terhindar dari depresi,“ kata Anggi yang hobi traveling dan kuliner.

     

    Ketika ditanya apakah tulisan-tulisannya terkait erat dengan pengalaman bullying di masa lalu. “Bisa jadi, tanpa saya sadari. Karena tulisan yang saya buat, memotivasi diri untuk bangkit dan percaya diri. Sikap inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi bullying. Makanya saya suka sekali melakukan penyuluhan ke sekolah dasar dan berbagi motivasi seputar hal tersebut.”

     

    Menulis buku dan berbagi motivasi kepada banyak orang menjadi kebahagiaan tersendiri buat Anggi. “Saya sedih kalau melihat orang sedih dan berkekurangan. Dari sini saya terdorong untuk selalu menebar kebahagiaan kepada banyak orang. Memotivasi mereka untuk terus berpikir dan bertindak positif dalam menjalankan setiap proses kehidupan. Paling tidak ini menjaga mental kita agar tetap “survive” dalam kondisi apapun,” pungkas Anggi yang kini tengah merampungkan penulisan novelnya.{}