elzatta X Chacha Frederica klik disini

Blog Elzatta

Mengenal Teknik Motif Tradisional Ikat

Kain tradisional Nusantara memang begitu kaya, selain batik yang sudah diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia, ada kain lainnya yang juga cantik, menarik dengan proses pembuatan handmade yang luar biasa tidak mudah, yaitu ikat dan songket.

Baik ikat ataupun songket, sama-sama merupakan kain yang ditenun dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Motif yang dihasilkan merupakan kreasi dari mengolah benang-benangnya. Lalu, apa bedanya ikat dan songket? Mau tahu Fams?

Kain ikat merupakan hasil karya dari daerah Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor dengan kekhasannya masing-masing. Perbedaan yang menonjol dari masing-masing daerah, terlihat pada bentuk motif dan kombinasi warnanya.

Motif pada kain ikat dibentuk dengan cara mengikat dan menutupi benang lungsi (yang searah panjang kain) dengan tali kedap air. Konsep dasarnya mirip dengan membatik, motif yang tidak diberi warna celupan ditutupi dengan tali atau benang. Setelah proses pembuatan motif dan pewarnaan selesai, kain pun siap ditenun.

Sedangkan kain songket adalah kain tenun yang ditambahkan motif dari benang emas, perak atau sutera ke bentangan benang (benang lungsi) yang sudah terpasang di mesin tenun. Benang tambahan ini sebagai benang pakan (searah lebar kain) dan disongket atau dicukit satu per satu agar teranyam ke dalam bentangan benang lungsi tadi. Kain songket dihasilkan dari daerah Palembang, Padang, Lampung (Sumatera); Donggala, Bugis (Sulawesi) dan Bali.

Karena mahal dan terbatas sumber bahannya, maka untuk produksi massal, brand-brand fashion retail banyak yang memakai ikat dan songket sebagai inspirasi untuk bahan printing mereka.

 

Sumber: www.itjeher.com, www.brainly.co.id

Mengenal Teknik Motif Tradisional (Batik)

Buat Fams penggemar batik, pasti sepakat kalau batik merupakan heritage kebanggaan Indonesia. Sebagai heritage yang diakui UNESCO, batik sering dijadikan inspirasi oleh desainer-desainer lokal maupun internasional.

Dalam perjalanannya di dunia fashion, penyebutan “batik” acap mengalami kekeliruan. Batik yang diungkap, dimaksudkan untuk menamakan jenis motif, bukan untuk menggambarkan proses dalam menerapkan motif tersebut pada selembar kain.   

Padahal motif batik kini tidak lagi melulu dihasilkan dengan cara manual tapi juga di-print menggunakan mesin. Seperti yang dipakai brand internasional semisal Uniqlo dan Dries Van Noten dari Belgia.  

Hal ini dikarenakan batik tradisional biasanya hanya dibuat pada kain sutera, katun atau rayon. Nah proses ini kurang sempurna jika menggunakan bahan-bahan sintetis. Sementara bahan sintetis umumnya lebih murah dari bahan alam, maka proses pembuatan motif pun dilakukan dengan teknik printing modern.

Kembali lagi, istilah “batik” sendiri sebenarnya merujuk pada teknik membuat motif tradisional yang dikerjakan secara handmade. Prosesnya membutuhkan lilin atau malam guna menutupi motif yang sudah dilukis di atas kain.

Dilanjutkan dengan pewarnaan yang memakai teknik celup atau pembubuhan menggunakan alat mirip spons (istilahnya ditotol). Motif yang tidak ingin terkena warna celupan harus ditutup dengan malam. Begitu seterusnya, proses ini diulang sampai semua motif berwarna sesuai dengan yang diinginkan.

Prosesnya agak rumit dan butuh pengulangan sesuai dengan jumlah warna. Setelah pewarnaan selesai, kain dijemur agar malam mengering. Tahap berikutnya adalah proses meluruhkan malam, dengan mencelupkan kain di dalam air panas.

Jadi penyebutan "batik" itu semestinya diartikan sebagai proses pembuatan motif dengan malam dan celupan, bukan untuk menamakan motifnya. Karena motifnya sendiri, sangat variatif tergantung pada falsafah, acara, ataupun kelas masyarakat yang akan memakainya, meski sekarang, kelas ini tidak diikuti lagi.

Motif batik daerah pesisir misalnya, cenderung berwarna cerah dengan pilihan motif alam sekitar, seperti hewan, bunga dan tumbuhan lainnya. Sementara motif batik daerah tengah biasanya merupakan simbol-simbol seperti parang, kawung, dan lain sebagainya dalam kehangatan warna tanah kecokelatan (sogan).

Gamis Kini

Fams penyuka gamis pasti sepakat, kalau item dalam fashion hijab ini, sudah menjadi favorit dalam pilihan berbusana. Ya, gamis kini tak lagi terbatas hanya dipakai oleh mereka yang sudah tak lagi muda secara usia, tapi juga dikenakan oleh rentang usia yang semakin muda.

Semua ini karena model dan style gamis yang kian bervariasi. Salahsatunya yang kekinian adalah gamis dengan detail flare dan layering di bagian dada. Penempatan detailnya dilakukan secara cermat sehingga tetap cantik dalam padanan kerudung panjang.

Di antara kelebihan gamis adalah kemudahan Fams memakai busana tipe ini. Selain itu rasa nyaman karena longgar, dan jauh dari kesulitan memadu-padan. Meski begitu, banyak Muslimah yang masih menguatirkan penampilannya saat memakai gamis loh Fams. Alasan yang sering diungkap, takut terlihat lebih gemuk. Alhasil, kalaupun bergamis, mereka tetap ingin tampil gaya dan kekinian. Juga merasa nyaman dan tidak mengganggu gerak.

Nah, berikut ini kiat memilih gamis yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan yang bisa Fams pertimbangkan.

  • Untuk yang bertubuh tidak tinggi, pilih yang minim detail. Hindari kerut di bagian dada, dan pilih kerudung yang warnanya tidak kontras dengan warna gamis.
Untuk yang bertubuh gemuk, hindari gamis dengan detail kerut di dada dan pinggul. Pilih posisi detail di area ujung lengan, bawah dan tengah gamis. Akan lebih baik, jika memilih yang berwarna gelap dengan motif yang tidak besar. Jika ingin mengenakan gamis kaus, pastikan siluetnya longgar karena bahan kaus cenderung bersifat "body hugging". Atau lapisi dengan outer, berupa long vest atau long cardigan.

Melihat Perkembangan Hijab Dunia

Fashion hijab kini mulai merambah brand-brand fashion internasional. Ya, meski nggak sefenomenal di Indonesia, tapi kondisi ini menandakan adanya potensi pasar yang menjanjikan dan terus tumbuh. Nggak percaya? Simak perkembangannya di berbagai belahan dunia ya Fams!  

Di Eropa, sebenarnya hijab sudah mulai dikenal sejak tahun 1980an. Waktu itu beberapa toko kelontong konvensional menjual scarf dan kerudung lainnya untuk para imigran yang berasal dari negara-negara Muslim, baik dari Timur Tengah maupun Afrika.

Perkembangannya cukup signifikan seiring dengan pertumbuhan imigran dari negara-negara mayoritas Muslim yang menetap di negara-negara Eropa dan kunjungan wisatawan Muslim ke berbagai negara di dunia, termasuk Eropa. Situasi ini juga diikuti manakala para atlet kelas dunia mengenakan hijab saat berlatih dan berlaga di berbagai kompetisi olahraga.

Berikutnya Turki, merupakan negara mayoritas Muslim yang industri fashionnya menjadi salah satu penggerak berkembangnya fashion Muslim dunia. Negara yang sebagian wilayahnya membentang di benua Eropa ini, terkenal dengan produksi scarf-nya.

Walau banyak penduduknya tidak mengenakan busana Muslim sesuai aturan syariah, scarf Turki yang berdesain indah dan diproduksi dalam skala besar ini, banyak disuka di Asia maupun Eropa.

Bagaimana dengan negara mayoritas Muslim lainnya seperti Iran?

Negeri para Mullah ini menerapkan aturan yang cukup ketat pada warganya dalam berpakaian dan bertingkah laku. Meski begitu, tidak menghalangi Muslimah muda Iran untuk mengadopsi gaya busana kontemporer ke dalam pakaian keseharian mereka, yang membuat fashion hijab jadi berkembang.

Fashion hijab di USA pun semakin marak, merefleksikan warga Muslim di sana yang 50%-nya adalah imigran dari Afrika, sedangkan separuhnya berasal dari berbagai negara lain (kurang lebih 75 negara). Di antara mereka, ada yang kelahiran Amerika, bahkan sudah memiliki 3 generasi.

Keadaan di Indonesia bahkan jauh lebih menggembirakan, di mana usia wanita yang berhijab, semakin muda. Ini menandakan ekspresi wanita Indonesia untuk menunjukkan kemandirian dalam memutuskan sesuatu semakin berkembang.

Dari sisi ekonomi, hal menguntungkan dari arus perkembangan fashion hijab ini adalah, Indonesia, bersama Turki dan Cina menjadi penyuplai terbesar produk fashion hijab ke negara-negara kaya di Timur Tengah yang terkenal memiliki buying power kuat.

Dan tentunya, perkembangan fashion hijab di dunia yang menggembirakan ini menjadi kabar baik bagi upaya menguatkan identitas Muslim di tengah masyarakat yang multikultur, bukan begitu Fams?

*sumber: www.independent.co.uk dan www.qz.com

Kaum muda Iran dengan pakaian kontemporer (www.independent.com)

Kaum muda Iran dengan pakaian kontemporer (www.independent.com)

Serba-Serbi Bergo

Kerudung segiempat memang sedang digemari dan trendi, tetapi bukan berarti kerudung instan yang dikenal dengan istilah bergo dilupakan. Bergo tetap punya penggemar sendiri, dan kini makin beragam model dan bahannya.

Bergo bahan kaus misalnya, memiliki variasi kaus yang kian beragam. Salahsatunya bahan jersey yang dulu sangat populer dipakai. Sekarang ini, jenisnya bertambah banyak, sebut saja di antaranya jersey crepe.

Di samping variasi bahan, bergo bahan kaus juga mengalami perkembangan dari sisi model. Kalau sebelumnya detail payet dan hiasan border menjadi model andalan, kini desainnya tampil lebih modern.

Untuk bergo sekolah, bahan cotton combed tetap jadi favorit karena lebih menyerap keringat daripada jersey. Adapun bergo panjang tampil tak kalah trendi. Dengan pilihan detail yang manis, membuatnya jauh dari kesan kuno.

Dalam perkembangannya, bergo-bergo semi instan justru digemari. Biasanya oleh mereka yang suka kepraktisan tapi ingin terlihat kekinian dan gaya. Kebanyakan bahan bergo semi instan yang dipilih adalah chiffon crepe atau yang sejenis, semata agar tampilan yang dihasilkan terlihat seperti mengenakan pasmina atau kerudung segiempat.

Apapun pilihan jenis dan model bergonya, yang perlu dicermati adalah perawatannya. Khususnya, pada pencucian bagian pet yang umumnya dilapisi busa tipis di dalamnya. Hindari mengucek bagian ini, dan sebaiknya dicuci dengan tangan. Atau jika dengan mesin, baiknya dipisah dari baju yang berbahan keras atau kasar seperti jeans agar tidak berbulu.

Lalu jemur dengan cara dibalik, bagian dalam berada di luar. Untuk penyetrikaan, bergantung pada jenis bahan. Bergo cotton combed dapat disetrika dengan temperatur tinggi, sebaliknya bergo chiffon crepe disetrika dengan temperatur rendah.

Untuk penyimpanan bergo dengan pet, lipat bagian badan bergo. Gulung ke arah dalam bagian pet sehingga hanya pet yang terlihat. Gulungan ini akan mengganjal pet agar bentuknya awet. Akan lebih praktis bila bergo disimpan dengan cara digantung, bila ruangnya memungkinkan. Nah Fams, semoga serba-serbi info seputar bergo ini bisa bermanfaat ya.